bnsp.go.id, 5 Maret 2005
JAKARTA(SINDO) – Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2008 disahkan. Pendapatan ditetapkan Rp781,4 triliun dan belanja Rp854,7 triliun, terjadi defisit Rp73,3 triliun.
Pemerintah mengakui ada dua risiko yang bisa menyulitkan pelaksanaan APBN 2008. “Risiko itu adalah pencapaian dua asumsi APBN 2008,yaitu jumlah lifting minyak 1,034 juta barel per hari dan harga minyak dunia harga yang ditetapkan USD60 per barel,” ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, kemarin.
Jika asumsi jumlah lifting tidak tercapai,defisit pembiayaan bisa membengkak di atas Rp73,3 triliun, sementara fluktuasi harga minyak mempersulit pelaksanaan subsidi energi.
“Tidak tercapainya lifting minyak akan berdampak signifikan pada APBN melalui membengkaknya defisit anggaran dan volatilitasnya (harga minyak dunia) yang sangat tinggi yang bisa berdampak cukup signifikan terhadap pelaksanaan APBN 2008,” kata dia. Sri Mulyani mengatakan, daya dorong yang kuat APBN 2008 terhadap perekonomian tecermin dari pemberian berbagai fasilitas perpajakan seperti pemberian insentif pajak terhadap 15 kelompok industri dan daerah tertentu serta pembebasan pajak penjualan (PPn) bagi produk primer.
“Ini menunjukkan kuatnya komitmen pemerintah dalam melakukan stimulasi fiskal untuk mendorong percepatan ekonomi guna mengatasi pengangguran dan kemiskinan,” kata Sri Mulyani saat membacakan pandangan pemerintah.
Selain itu, pembebasan atau keringanan bea masuk dan pajak impor yang ditanggung pemerintah (DTP) untuk sektor prioritas seperti migas, panas bumi, listrik, penerbangan, pelayaran, industri terpilih, dan transportasi publik.
“Di bidang belanja negara,komitmen ini antara lain diwujudkan dengan mempertajam prioritas dan meningkatkan efisiensi belanja barang dan menggunakan hasil realokasi atau penghematan belanja barang untuk dialokasikan pada belanja modal dan belanja sosial,”katanya.
Ekonom Universitas Gajah Mada Sri Adiningsih menganggap komitmen pemerintah tersebut tidak mudah dilaksanakan apabila tidak ada perbaikan kinerja penyerapan anggaran. Selain perencanaan yang realistis, kinerja aparat birokrasi perlu diperbaiki.
“Kalau besar tapi tidak terserap kan sayang. Jadi kuncinya pada implementasi dan perencanaan,”ujarnya.
Sementara Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia Djimanto berharap komitmen APBN 2008 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dapat diikuti semangat dalam penyusunan APBD. Sebab, pada dasarnya efektivitas stimulus fiskal itu dirasakan pada level daerah.
“Jangan APBN memberi insentif, tapi APBD memberi pungutan,”katanya. Kendati seluruh fraksi DPR menyetujui agenda pengesahan, hampir semua memberikan catatan dan nota keberatan, terutamamengenaialokasianggaran pendidikan yang masih rendah.
“Kita meminta agar tahun depan menjadi tahun terakhir alokasi anggaran di bawah 20%,” kata juru bicara Fraksi Persatuan Pembangunan Lukman Hakiem. Dalam APBN 2008, anggaran pendidikan sekitar Rp48 triliun atau 12% dari APBN, tidak termasuk gaji pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan.
Sementara itu juru bicara Fraksi Partai Amanat Nasional Tjatur Sapto Edy meminta agar pemerintah bekerja keras untuk meningkatkan anggaran yang ada saat ini. Sementara anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa Ali Masykur Musa bahkan menyatakan pengesahan APBN 2008 telah melanggar UUD 45.
“Saya berharap DPR dan pemerintah tidak memberi contoh yang inkonstitusional, sebuah praktik ketatanegaraan yang permisif pada pelanggaran UUD,” katanya. Adapun asumsi pokok APBN 2008 adalah pertumbuhan ekonomi 6,8%,inflasi 6%,nilai tukar Rp9.100 per USD, bunga SBI 3 bulan 7,5%, harga minyak USD60 per barel, lifting minyak 1,034 juta barel per hari,dan PDB nominal Rp4.306,607 triliu
Posted by tjatursaptoedy
Posted by tjatursaptoedy