KORAN TEMPO, 18 April 2005
JAKARTA — Pemerintah akhirnya menyetujui pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) untuk mengatasi krisis listrik, terutama di Jawa dan Bali. Rencananya, pembangkit berkapasitas sekitar 4.000 megawatt itu akan dibangun di Semenanjung Muria, Jawa Tengah, pada 2010.
Kepala Badan Tenaga Atom dan Nuklir Soedyartomo Soentono mengatakan, proses tender akan dimulai pada 2008. Ini berarti tahun itu pula pemerintah harus sudah melengkapi semua regulasi untuk mengejar target operasi pembangkit pada 2016.
Menurut Soedyartomo, rencananya akan dibangun empat pembangkit berkapasitas masing-masing 1.000 megawatt Pada tahap pertama, akan dibangun dua pembangkit. Sisanya dilanjutkan hingga 2024. Lokasi PLTN berada sekitar 7 kilometer dari proyek pembangkit listrik Tanjung Jati B. Tempatnya, kata Soedyartomo, dipilih yang stabil dan aman dari segi tektonik, vulkanik, dan tsunami, termasuk aman dari kemungkinan kejatuhan meteor dan pesawat terbang.
Rencana ini sebelumnya mendapat tentangan keras dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan penduduk setempat. Mereka mengkhawatirkan dampak radiasi seandainya terjadi kebocoran atas pembangkit bertenaga nuklir itu.
Anggota Komisi Energi DPR Tjatur Sapto Edy, meski mendukung rencana pengembangan PLTN guna menjawab kebutuhan energi didalam negeri, meminta agar PLTN menjadi alternatif terakhir. “Seharusnya pemerintah terlebih dulu mengoptimalkan sumber energi lainnya yang melimpah, seperti batu bara dan gas,” ujarnya.
Menanggapi kekhawatiran itu, Soedyartomo memastikan aspek keamanan pengguriaan nuklir sebagai pembangkit, terutama dari segi lingkungan. Apalagi, kata dia, pengoperasiannya tidak hanya berdasarkan kriteria nasional, tapi juga regional dan internasional. “Perizinan pendirian pembangkit nuklir jauh lebih terakreditasi dibandingkan dengan pembangkit lain,” ujarnya, “karena melalui badan internasional.”
Kelebihan lain, ia menjelaskan, harga listrik yang dihasilkan bisa jauh lebih murah ketimbang menggunakan energi lain, yaitu sekitar US$ 3-3,5 sen per kilowatt-jam. “Ada yang bisa kurang dari US$ 3 sen,” ungkapnya “Itu lebih murah dibandingkan dengan harga (listrik) saat ini yang mencapai US$ 7 sen.” • retno sulistyowati/tito Sianipar
Posted by tjatursaptoedy