Rakyat Merdeka, 30 Juni 2005,
Rencana Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Pertamina yang digelar hari ini terancam gagal gara-gara laporan keuangan Pertamina belum tuntas. Ha, belum tuntas? Masa sih perusahaan sebesar itu ‘tak becus’ dalam menyelesaikan laporan keuangannya?
PERSOALAN yang menggelayuti Pertamina sangat kompleks. Tidak sesederhana membuat laporan keuangan. Dibalik peristiwa ini, jajaran direksi Pertamina kabarnya “ngambek” gara-gara dipaksa me-nandatangani kesepakatan antara tim negosiasi pemerintah dengan Exxon Mobile dalam penyelesaian masalah Blok Cepu.
Menurut sumber Rakyat Merdeka, direksi Pertamina merasa dilecehkan tim negosiasi pemerintah. Karena, kesepakatan antara Pertamina dengan Exxon Mobile adalah Technical Agreement Conctract (TAG). Selain itu, Exxon Mobile termasuk perusahaan yang wan prestasi alias default di mata Pertamina.
Namun demikian, kemarin beredar khabar bahwa RUPS Pertamina akan tetap dipaksakan walaupun tanpa laporan keuangan. Dalam acara ini, jajaran direksi Pertamina akan kembali dipaksa meneken persetujuan tersebut.
Keadaan ini membuat posisi Dirut Pertamina Widya Purnama dilematis. Namun, ia harus ambil resiko. Pertama, bertahan di kursi dirut dengan meneken kesepakatan tersebut. Kedua, Widya tersingkir digantikan Martiono, bekas Dirut Pertamina yang juga disebut-sebut pernah menjadi tim sukses SBY-Kalla.
Kepada wartawan, Menneg BUMN Sugiharto membenarkan bahwa dalam RUPS kali ini, pihak Pertamina belum mempersiapkan laporan keuangannya. Akibatnya, direksi dan komisaris Pertamina dibebaskan dari tanggung jawab. “Dan itu dimungkinkan dalam UU perseroan,” katanya di Jakarta, kemarin.
Dalam kondisi ini, Meneg BUMN memang terlihat ngotot akan menggelar RUPS. Ketika ditanyakan adanya upaya pemaksaan terhadap direksi agar meneken perjanjian dengan Exxon, lelaki gemuk itu tak mau menjawab.
Demikian pula soal kemungkinan dilakukannya “kocok ulang” direksi Pertamina, lagi-lagi Sugiharto ngeles. “RUPS akan tetap berjalan. Saya tidak akan berko-mentar soal pergantian-pergantian. Dewan selalu mengingatkan karena bisa menimbulkan keresahan. Jadi saya kira itu suatu hal yang logis,” paparnya.
Sementara itu, Deputi Menneg BUMN bidang pertambangan, industri strategis dan telekomunikasi Roes Aryawijaya menyatakan bahwa agenda terpenting dalam RUPS Pertamina adalah evaluasi kinerja jajaran direksi. “Kalau kinerja direksi buruk, dalam kontrak manajemen tahun 2004, diatur mengenai reward andpunishment. Klta akan evaluasi kinerja mereka untuk kepentingan masyarakat dan bangsa,” ujarnya.
Menjawab peluang adanya pergantian direksi, Roes tak segera menjawab. Apalagi ketika disodori masalah adanya penolakan hasil kesepakatan tim negosiasi dengan Exxon Mobile, pria berjambang itu hanya sedikit buka mulut. “Persoalan Blok Cepu sudah ada standard operating procedure dan ditangani oleh tim negosiasi,” ucapnya.
Sekedar diketahui, Tim Negosiasi Blok Cepu diketuai Komisaris Utama Pertamina Martiono. Sedangkan Wakil Ketua adalah Roes Xryawijaya, Sekretaris Lin Che Wei. Sedangkan anggota tim terdiri dari Komisaris Pertamina Umar Said, Wakil Direktur Utama Mustiko Saleh, Direktur Jenderal Minyak dan Gas lin Arifin Takyan, Sahala dari Departemen Keuangan. Sedangkan yang bertindak sebagai jubir adalah Rizal Mallarangeng dan M. Ikhsan, staf ahli Menko Perekonomian. IP
KASUS Blok Cepu yang menyeret jajaran direksi Pertamina mendapat perhatian khusus anggota Komisi VII DPR. Dalam kasus ini, DPR memutuskan akan mendukung langkah Pertamina. Termasuk menolak hasil kesepakatan yang merugikan Pertamina itu.
Demikian diungkapkan Anggota Komisi VII DPR dari F-PAN yang membidangi migas, Tjatur Sapto Edi. Menurutnya, langkah yang dilakukan direksi Pertamina sudah tepat. Pasalnya, kontrak dengan Exxon Mobile seharusnya tidak diwakilkan pemerintah. “Saya curiga, ada segelintir orang yang mau enaknya sendiri. Nggak perlu kerja keras, tapi menikmati hasil dari kesepakatan itu. Ujung-ujungnya, rakyat menderita,” ucapnya.
Dalam kasus ini, lanjutnya, sikap direksi yang dipimpin Widya Purnama patut diacungi jempoi. Pasalnya, dia bersedia mundur demi menegakkan kebenaran. Walaupun harus berhadapan dengan kekuasaan. “Di depan Komisi VII, Dirut Pertamina sudah menolak untuk meneken hasil kesepakatan. Karena, Pertamina merasa dikangkangi. Insya Allah, mayoritas anggota Komisi VII DPR akan mendukung Pertamina,” tegasnya.
Adanya upaya untuk menggusur Widya Purnama cs dilakukan karena pemerintah tidak memiliki pilihan lain kecuali memaksa Pertamina menggandeng Exxon Mobile. “Ujung-ujungnya politis. Kalau sudah begini, bisa saja, kami usulkan hakangket untuk membongkar kasus ini,” tegasnya.
Wakil Ketua Komisi VII DPR, Sonny Keraf juga menilai eksistensi tim perunding tidak bisa dipertanggung jawabkan alias liar. “Pertamina sendiri tidak dilibatkan dalam tim perunding dan kenapa pemerintah yang harus berunding dengan perusahaan. Kan itu menurunkan derajat pemerintah,” paparnya.
Ditegaskan, pembentukan tim tersebut dilakukan atas prakarsa Menko Perekonomian Aburizal Bakrie. “Dalam waktu dekat, Komisi VII berencana akan memanggilnya untuk dimintai klarifikasinya,” tandasnya. IP
Posted by tjatursaptoedy
Posted by tjatursaptoedy
Posted by tjatursaptoedy