Krisis BBM Kian Parah

July 6, 2005

Berita Kota, 06 Juli 2005

Krisis bahan bakar minyak (BBM) kian parah. Antrean panjang masih ‘mengular’ disejumlah SPBU. Benarkah kelangkaan ini buah konspirasi untuk merusak citra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono?

ADA saran menarik dari mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas Kwik Kian Gie untuk Presiden Susilo Bambang Yudho­yono. Menurut Kwik, Presiden segera ‘menjewer’ Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Keuangan Yusuf Anwar. Alasan Kwik, karena kedua menteri ini bertanggung jawab terhadap terjadinya kelangkaan BBM. Apa yang dikatakan Kwik kepada wartawan di Jakarta, Selasa (5/7), cukup beralasan, karena memasuki hari ketiga, krisis BBM justru semakin parah. An­trean panjang masih terus berlangsung. Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) tutup lebih awal. Antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah SPBU di kawasan Jakarta. Sejak pagi hingga siang antrean panjang kendara­an terlihat di SPBU 34.10401 Jl Kramatraya, Jakpus. Lima tempat pengisian BBM yang ada di SPBU tersebut langsung diserbu kendaraan hingga antrean mencapai ujung jalan raya. Hal serupa terjadi di SPBU 34.10601, Gunungsahari, Jakpus dan SPBU 34.13208 Rawamangun Jaktim.

Ahmad, warga Kemayoran Jakpus mengaku ia terpaksa harus ikut dalam antrean panjang, ka­rena jika pengisian menunggu hingga malam hari, stok premium yang dicarinya pasti sudah habis. “jadi, ya terpaksalah saya harus ikut antre.”

Sementara di Cinere hanya sebagian SPBU yang beroperasi karena pasokan dikurangi sekitar 50%. Akibatnya, karena banyaknya kendaraan yang antre, setelah siang pasokan yang diterima se­kitar 32 ribu liter langsung habis.

Hal sama juga terjadi di SPBU Jl Pakubowono, Jakarta Selatan, SPBU Lapangan Tembak Senayan, SPBU Green Garden, Jakbar, ter­paksa tutup karena pasokan yang diterima habis. Rata-rata SPBU tersebut menerima pengurangan pasokan BBM antara 30% sampai 50% dari biasanya.

Kelangkaan BBM mulai merambah Tangerang. Sejumlah SPBU, Selasa pagi, terpaksa tak beroperasi karena tidak memiliki persediaan premium. Akibatnya antrean kendaraan yang hendak membeli premium terlihat makin panjang menjelang sore hari. Di antara SPBU yang tak lagi melayani pembelian premium karena sejak Senin malam lalu kehabisan stok adalah SPBU di Jl KH Hasyim Ashari, Cipondoh.

Pemilik kendaraan yang melintas di jalan yang menghubungkan Kota Tangerang dan OKI itu terpaksa mengerubuti SPBU 35-1511 dan dua SPBU di Jl.Jenderal Sudirman, Cikokol, yang masih mempunyai persedian pre­mium. Namun, persedian premi­um di SPBU-SPBU itu pun tak banyak. Diperkirakan, menjelang sore stok mereka pun bakal habis.

“Persediaan premium di sini tinggal sedikit. Sampai saat ini ti­dak ada pasokan premium yang datang. Mungkin nggak sampai sore bakal habis,” ujar seorang penjaga SPBU 35-15111.

Selain di Cikokol dan Cipon­doh, antrean panjang kendaraan juga terlihat di sejumlah SPBU di Jl Imam Bonjol dan Jl Gatot Subroto. Menurut Silalahi, pengelola SPBU di Jl Imam Bonjol, stok premium di tempatnya hanya cu­kup untuk satu hari saja.

Antrean panjang juga terjadi di sejumlah SPBU di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi, Selasa pagi hingga sore. Sejumlah pengendara mengaku, terpaksa ke Bekasi karena antrean di SPBU Ja­karta justru lebih padat.

Permintaan BBM di SPBU bulan-bulan, sama seperti sehari sebelumnya. Beberapa jam akhirnya tutup karena kehabisan BBM, namun kiriman BBM datang kemudian. Di SPBU ini memang cukup ramai, sehingga terjadi antrean. Namun, SPBU lainnya, dikabarkan masih punya stok, sehingga belum terjadi pembatasan pengi­sian.

Kelangkaan premium di Kota Bogor dan sekitarnya masih berlangsung, hingga Selasa kemarin. Namun.suasana antrean pengguna kendaraan di beberapa SPBU sudah tampak berkurang, tidak seperti Senin (4/7) saat hampir semua SPBU di Kota Bogor tidak memiliki stok BBM tersebut.

Misalnya, di SPBU Cipayung Kec. Megamendung Kab. Bogor, tepatnya yang berada di Jalur Puncak, terlihat terjadi antrean masih melayani penjualan tiga jenis BBM tersebut. Sebab, di SPBU la­innya yang jaraknya sekitar 500 meter, stok premium telah habis sejak Minggu (3/7) lalu dan hingga Selasa (5/7) kemarin belum mendapat pengiriman.

Baku Hantam

Sementara itu, di Serang sesama pengantre BBM terlibat baku hantam. Perkelahian ini dapat segera dilerai. Kedua orang yang berkelahi yang diketahui bernama Arman (26) warga Ciceri, Serang dan Kamaluddin (36) warga Kecamatan Walantaka. Keduanya kemudian digelandang petugas ke Mapolres Serang.

Di hadapan petugas Kamalud­din mengaku insiden baku han­tam ini dipicu oleh ulah Arman yang tidak mau antre dan secara tiba-tiba datang menyerobot antrean panjang para pengendara motor dan pengemudi angkot. Saat diinterogasi Arman mengakui kesalahannya. la menyerobot karena ingin cepat-cepat ke RSU Serang menjenguk orangtuanya yang sakit keras.

Rusak Citra Presiden

Terkait dengan faktor politis, Partai Demokrat (PD) mendesak Menko Ekuin Aburizal Bakrie, Menneg BUMN Sugiharto, Men­teri ESDM Purnomo, dan Dirut Pertamina Widya Purnama mundur bila tetap tidak becus mengatasi kelangkaan BBM. Partai ini khawatir, masalah ini bakal mengancam citra Presiden.

Wakil Ketua Fraksi PD DPRJoni Alien Marbun mengatakan, seharusnya BBM tidak lagi menjadi masalah lantaran pemerintah sendiri sudah mengucurkan dana sebesar Rp8 triliun untuk mengatasi kelangkaan BBM itu. Sehing­ga tenggang waktu 22 hari seperti dijanjikan SBY dalam mengatasi kelangkaan BBM bisa berjalan berjalan lancar. Namun kenyataannya, kelangkaan BBM justru makin meningkat dan menjalar hingga ke ibukota negara.

“Para menteri ekonomi yang terkait dengan BBM ini harus bertanggung jawab terhadap rakyat. Kalau kondisinya begini terus citra SBY bisa turun,” ujarnya.

Menurutnya, kelangkaan BBM ini karena tiga aspek. Pertama, buruknya manajemen Pertamina dalam mengantisipasi stok BMM mulai dari hulu hingga hilir. Ke­dua, lemahnya pengawasan Per­tamina terhadap pialang-pialang nakal yang hanya mementingkan keuntungan. Ketiga, adanya konflgurasi dari kepentingan politik kelompok tertentu untuk memanfaatkan kelangkaan BBM sebagai senjata untuk menurunkan citra SBY di mata rakyat. Sebab itu, imbuh Joni, SBY harus segera mengambil langkah-langkah efektif. Selain itu, katanya, Wakil Pre­siden Jusuf Kalla yang ditugasi SBY untuk menangani masalah ekonomi harus juga ikut bertang­gung jawab dengan cara menggenjot kinerja menteri-menterinya.

Desakan serupa juga disampaikan anggota Komisi VII Tjatur Sapto Edy dan anggota Komisi XI DPR RI Rizal Djalil

Mereka mendesak Menteri Negara (Menneg) BUMN Sugihar­to turun dari jabatannya. Alasannya Sugiharto tidak mampu mengemban amanat rakyat dan tidak mampu menjalin koordinasi dengan jajaran direksi Pertamina dalam pengadaan BBM. Sehingga terjadi kelangkaan. Selain itu, DPR juga menilai Sugiharto, itu bukanlah seorang menteri yang kredibel. Empat kali di panggil DPR, empat kalipula dia mangkir. © tim BK