Forkomlitbang, 30 Mei 2007
Demikian disampaikan oleh Anggota Komisi VII DPR Ir. Tjatur Sapto Edy, MT dalam diskusi panel bertajuk “Dukungan Lembaga Legislatif dalam Peningkatan Peran Litbang” yang diadakan oleh Forum Komunikasi Kelitbangan, Rabu (30/5). Acara ini merupakan pertemuan FKK yang ke-17 sejak diluncurkan pada 9 Oktober 2003 dan merupakan kali kedua untuk tahun 2007. Diadakan di Balai Pertemuan Dirgantara Lantai III Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), acara tersebut dihadiri oleh semua komunitas kelitbangan yang berasal dari Departemen, Kementerian, LPND, serta Balitbangda dari berbagai provinsi.
“Dalam kaitan tersebut Kementerian Riset dan Teknologi dan lembaga penelitian terkait perlu melakukan peningkatan koordinasi program-program dalam upaya penyamaan persepsi dan kesepahaman pembangunan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada pemantauan dan evaluasi melalui Rakornas LPND Ristek sebagai upaya menuju satu arah, yaitu pembangunan dan penguatan interaksi antara penelitian dengan sektor riil”, papar Tjatur Sapto Edy.
Tjatur Sapto Edy juga menuturkan beberapa peluang dan tantangan kegiatan ristek di Indonesia. Menurutnya, kenyataan menunjukkan bahwa selama ini penataan dan penyempurnaan kelembagaan masih belum sepenuhnya diarahkan pada upaya efisiensi, peningkatan daya saing, ataupun mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Oleh karena itu, salah satu faktor yang penting adalah pergeseran orientasi kegiatan litbang di perguruan tinggi dan lembaga litbang agar kapasitas iptek yang terbentuk di lingkungannya lebih komplementer dengan perkembangan tantangan dan kesempatan bisnis.
Setidak-tidaknya ada sejumlah kondisi yang perlu diantisipasi oleh manajemen lembaga litbang dan perguruan tinggi sebagai berikut: a) Semakin meningkatnya tuntutan masyarakat agar kegiatan penelitian di perguruan tinggu dan lembaga litbang dapat menghasilkan kontribusi yang konkrit bagi masyarakat khususnya dunia usaha. b) Adanya tarikan kebutuhan teknologi yang semakin kuat dari dunia usaha karena persaingan pada pasar domestik semakin dipengaruhi oleh keterbukaan pasar global, sementara itu dengan nilai tukar rupiah pada saat ini harga teknologi luar negeri menjadi tidak murah lagi,” jelas Tajur Sapto Edy.
Menurut Tjatur Sapto Edy, melalui Forum Kelitbangan yang dikoordinir oleh Kementerian Riset dan Teknologi merupakan langkah yang sangat strategis dalam memanfaatkan peluang dan tantangan dalam mendorong peluang peningkatan nilai-tambah industri pendukung, meningkatkan keunggulan komparatif daerah secara lebih efisien dalam infestasi maupun proses produksi, meningkatkan keunggulan kompetitif hasil daerah, memanfaatkan sumberdaya alam secara lebih bijaksana, dan mendorong peningkatan kontribusi pertumbuhan industri besar.
“Demi mewujudkan hal tersebut perlu pula dibuat strategi implementasi yang meliputi pembentukan kluster-kluster kemampuan iptek yang memiliki nilai ekonomis yang potensial baik melalui peningkatan linkage terhadap pengembangan sector riil, peningkatan akses publik terhadap hasil penelitian, sustainabilitas program dengan program lainnya,” imbuh Tjatur Sapto Edy.
Dalam penutupan paparannya, Tjatur Sapto Edy menyampaikan bahwa ada tiga hal mendasar yang perlu dilakukan bersama oleh semua unit kelitbangan, yaitu 1) meningkatkan kualitas hasil penelitian dan pengembangan yang dapat segera dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat, 2) mewujudkan peningkatan pemahaman tentang penelitian dan pengembangan, dan 3) mewujudkan perbaikan integritas aparatur.
Selain Tjatur Sapto Edy, pembicara lainnya dalam acara diskusi panel tersebut adalah Asdep Program Riptek Daerah Deputi Bidang Program Riptek KNRT Fajar Suprapto dan Sekretaris Dewan Riset Nasional (DRN) Tusy A. Adibroto.
Fajar Suprapto dalam paparannya menyampaikan butir-butir penting yang berkaitan dengan Arti dan Peran Survey Lembaga Litbang pemerintah dalam Data Statistik Iptek. Beberapa hal yang menjadikan Survey Litbang Pemerintah dirasa penting yakni 1) belum adanya data statistik iptek yang memadai, 2) mendukung kebutuhan data iptek baik untuk kepentingan nasional, regional, maupun global, 3) melanjutkan upaya korea selatan yang telah melakukan inisialisasi pengumpulan data iptek di tingkat ASEAN, 4) menindaklanjuti hasil rakornas iptek 2004 untuk membuat statistik iptek.
Sementara itu, Sekretaris DRN Tusy A. Adibroto memaparkan materi “Sosialisasi Pemetaan Agenda Riset Nasional 2006-2009”. Di dalam paparannya, Tusy A. Adibroto menjelaskan bahwa fungsi DRN antara lain melakukan pengamatan dan evaluasi secara terus-menerus terhadap perencanaan dan pelaksanaan ARN.
“Terkait salah satu fungsi DRN tersebut, saat ini DRN tengah melaksanakan kegiatan Pemetaan Pendalaman dan Perluasan Kegiatan Riset Lembaga. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melihat seberapa jauh program-program ARN dapat diimplementasikan oleh beberapa stakeholders riptek. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengetahui potensi kolaborasi, kepentingan-kepentingan pengembangan local advantage, HKI, komersialisasi, dan antisipasi masa depan, serta dalam rangka mencari bentuk-bentuk kolaborasi dan kemitraan sinergistik,” papar Tusy A. Adibroto.
Mitra pemetaan yang terlibat dalam kegiatan Pemetaan tahun 2007 terdiri dari 20 lembaga pemerintah meliputi LPD dan LPND, perguruan tinggi (swasta dan negeri), serta badan usaha (swasta dan negara). Untuk mengetahui kebijakan dan skema insentif kegiatan riset, dilibatkan pula Ditjen Pendidikan Tinggi dan KNRT.
“Melalui kegiatan riset-pendalaman kali ini diharapkan dapat diketahui siapa, berlokasi di mana, melakukan apa, kapan, bagaimana menjalankannya, apa hasilnya, mengapa kegiatan itu dilakukan, serta bagaimana pula jika disandingkan dengan ARN,” tambah Tusy A. Adibroto. ***
Posted by tjatursaptoedy
Posted by tjatursaptoedy