WawasanDigital.com, Senin, 30 Juli 2007
Warga Beran mulai beraktivitas
MUNGKID – Satu minggu pascapageblug yang melanda Dusun Beran, Desa Kanigoro, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, kehidupan warga dusun setempat berangsur-angsur normal. Sejumlah warga mulai melakukan aktivitas berladang serta merumput untuk mencari makanan ternak. Sementara kegiatan belajar mengajar yang sempat terhenti sekitar satu pekan juga mulai berjalan seperti sedia kala.
”Kegiatan belajar-mengajar telah berjalan seperti semula, anak-anak sekolah kembali masuk sekolah seperti biasa,” kata Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Ngablak, Yulius Suparmo, pagi tadi.
Ia menambahkan, jumlah siswa SD Kanigoro 1 yang sempat ’libur’ selama seminggu, karena mengungsi bersama orangtuanya, sebanyak 125 siswa.
Terpisah, Kepala Dusun Beran, Yanto, mengatakan, aktivitas warga juga mulai berjalan normal. Ladang dan ternak yang sempat mereka telantarkan karena musibah pageblug pekan lalu, kini mulai disentuh.
Tidak layak
Sementara itu masyarakat Dusun Beran, Desa Kanigoro, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, yang sempat terserang wabah misterius, berharap bantuan perbaikan sejumlah bak penampungan air yang saat ini kondisinya sudah tidak layak lagi.
”Saat ini kebutuhan air bersih dipenuhi dari delapan bak penampungan yang tersebar di dusun,” kata Kepala Desa Kanigoro, Gadang Rintoko, saat menerima kunjungan anggota DPR RI, Ir Tjatur Sapto Edy, Ketua Komisi B DPRD Jateng, Agna Susila, dan Ketua DPD PAN Kabupaten Magelang, Mashari, kemarin.
Gadang Rintoko mengatakan, Pemerintah Desa Kanigoro tidak memiliki anggaran untuk memperbaiki saluran bak penampung yang rusak.
”Kalau gotong royong tenaga, masyarakat siap. Tetapi tidak ada dana untuk memperbaiki sarana air bersih,” katanya.
Menurutnya, proposal permintaan perbaikan bak penampungan di dusun itu sudah disampaikan pada Pemkab Magelang, beberapa tahun lalu. Namun hingga kini belum ada kejelasan. Sedangkan anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 150 juta.
Hal senada dikatakan Camat Ngablak, Soedjarno SSos. Menurutnya, kebutuhan air bersih bagi warga saat ini berasal dari mata air yang berjarak sekitar tujuh km dan disalurkan melalui bak-bak penampungan. “Namun kondisi bak penampungan yang dibangun pada 1975 itu banyak yang rusak,” tambahnya.
Anggota Komisi VI DPR RI, Tjatur Sapto Edy, dalam kesempatan itu berjanji membantu mengusulkan permintaan warga Beran untuk memperbaiki sarana air bersih melalui perubahan APBN 2007, Oktober nanti.
“Bila tidak memungkinkan akan diusulkan dalam APBN 2008. Saya akan membantu memperjuangkan perubahan APBN, karena ini merupakan kebutuhan mendesak,” kata anggota DPR asal Magelang itu.
Ia juga berharap Litbangkes Depkes dan Lembaga Laboratorium Eykman yang memeriksa penyebab kematian 10 warga Dusun Beran segera diketahui.
Pada kesempatan itu Tjatur Sapto Edy menyerahkan bantuan uang duka bagi masing-masing korban meninggal sebesar Rp 5 juta. ias/zal
Posted by tjatursaptoedy
Posted by tjatursaptoedy
Posted by tjatursaptoedy