Wartaone.com, 13 Juni 2009
Jakarta - Terus melambungnya harga minyak mentah dunia memberikan tekanan sangat besar pada postur subisid BBM pada APBN 2009. Jatah subsidi 2009 yang hanya Rp 24,5 triliun dipastikan bakal membengkak hingga Rp 48 triliun sampai akhir tahun.
“Kalau dalam beberapa bulan ke depan hingga Desember harga minyak terus stabil diatas US$ 60/barel saja, maka total subsidi BBM akan membengkak hingga Rp 48 triliun dari jatah subsidi sekarang Rp 24,5 triliun dengan asumsi ICP US$ 45/barel,” demikian dikatakan Anggota DPR Komisi VII, Tjatur Sapto Edi kepada WartaOne.com di Jakarta, Sabtu (13/6) sore.
Menurut Tjatur, hingga akhir bulan kemarin, total subsidi yang telah terpakai sudah menjadi Rp 13 triliun dari angka Rp 24,5 triliun. “Hitung-hitungan saya, subsidi bisa bengkak jadi Rp 48 triliun,” ujarnya.
Keadaan ini dapat terlihat dari terus membengkaknya ongkos keekonomian BBM dalam negeri. Ongkos keekonomian BBM atau dikenal dengan ongkos produksi ditambah alpha pengiriman 8% sudah melebihi cadangan subsidi untuk setiap 1 liter BBM.
“Harga keekonomian BBM sekarang, premium Rp 5.600/liter, Solar Rp 5.200/liter, dan Kerosene Rp 5.000/liter,” jelasnya.
Ia menambahkan, keadaan ini tidak serta-merta membuat APBN dalam negeri jeblok. Masih ada harapan dari penerimaan total di sektor migas, asalkan target lifting 960 ribu barel per hari (bph) bisa tercapai.
Sementara itu harga jual BBM masih tetap, Premium masih tetap Rp 4.500/liter, Solar Rp 4.500/ liter dan minyak tanah tetap Rp 2.500/liter.
Artinya, saat ini pemerintah sedang menanggung besaran subsidi Premium sebesar Rp 1.100/liter, Solar Rp 700/liter, dan Kerosin (Minyak tanah) Rp 2.500/liter. (ars/asa)