Pelita.or.id, 7 November 2008
Jakarta, Pelita. Bencana yang menimpa Indonesia selama sepuluh tahun terakhir tidak bisa dilepaskan dari berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi di seluruh negeri ini. People center power menjadi salah satu solusi penting guna menyelamatkan kondisi lingkungan Indonesia dari kehancuran.
Hal ini terungkap dalam diskusi publik bertajuk \’Di Balik Kerusakan Hutan dan Bencana Alam\’ yang diadakan di Jakarta, belum lama ini. Hadir sebagai pembicara dalam acara ini antara lain Wandoyo Siswanto, Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Dephut RI, Hariadi Kartodihardjo, penulis buku \’Tetralogi Politik Lingkungan Indonesia\’ yang diluncurkan pada acara tersebut.
Selain itu Tjatur Sapto Edy, anggota Komisi VII DPR RI, Hening Parlan, Sekjen Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), dan Hoetomo, Deputi V Bidang Penataan Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup. Sementara itu, Emil Salim dan Chalid Muhammad, Direktur Eksekutif Walhi, juga turut memberikan pendapatnya dalam acara tersebut meskipun hanya lewat telepon.
Emil Salim, penyelesaian masalah lingkungan akan sulit kalau hanya mengandalkan pemerintah secara sektoral. Karenanya perlu kekuatan di luar pemerintah, yakni masyarakat madani, yang harus diberdayakan sebagai kekuatan pengimbang dalam masalah lingkungan.
Masyarakat madani harus tahu sumber daya alam mana yang strategis yang harus diutamakan. Dengan begitu akan bisa memberi masukan untuk rencana umum tata ruang di setiap wilayah agar selalu memperhatikan keberlangsungan lingkungan hidup sebagai program jangka panjangnya. Kekuatan masyarakat madani ini harus memperjuangkan yang jangka panjang sebab pemerintah yang selalu berganti setiap beberapa tahun sekali memang tidak akan punya rencana jangka panjang, paparnya.
Hening pun setuju dengan gagasan Emil dan memberi satu penekanan yang menurutnya penting dalam implementasi isu ini. People center power, dia menjelaskan, terdiri dari tiga elemen penting yaitu masyarakat madani, pemerintah dan pasar. Di lapangan, masyarakat madani akan selalu berseberangan dengan pasar sehingga perlu ada peraturan yang jelas untuk mengatasi masalah ini.
Di sinilah pentingnya Undang Undang Pengelolaan Sumber Daya Alam. Dengan adanya UU ini ada perlindungan bagi masyarakat madani yang berkonflik dengan pasar sehingga masyarakat tidak dianggap melakukan tindakan subversif ketika menjalankan perannya dalam melindungi lingkungan. Jadi, kapan UU PSDA lahir? tanyanya.
Berbeda dengan Emil dan Hening, Tjatur memberikan solusi penyelesaian masalah lingkungan di Indonesia pada beberapa aspek. Dia menyatakan, perlu ada grand koalisi masyarakat madani guna menyelamatkan sisa sumber daya alam yang masih ada di Indonesia.
Secara politik, mau tidak mau kita harus punya pemimpin yang jujur, cerdas dan berani untuk menyelamatkan sumber daya alam yang ada. Biar saja kalau perusahaan-perusahaan multinasional yang ada di Indonesia, misalnya Nike, hengkang dan memindahkan perusahaannya ke Vietnam, tidak jadi masalah. Sementara sumber daya alam Indonesia akan tetap jadi milik kita, tidak akan berpindah ke mana-mana, tegasnya.
Selanjutnya Tjatur juga berharap secara ekonomi ada internalisasi lingkungan hidup dalam setiap penghitungan ekonomis sumber-sumber daya alam yang ada. Sifting paradigma juga menjadi fokus penyelesaian masalah yang harus diambil pemerintah.
Jangan cuma mengeksploitasi sumber daya alam untuk mengejar devisa, tapi pikirkan bagaimana untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia dulu. Kalau kebutuhan rakyat sudah terpenuhi barulah kita mengekspor sumber daya alam tersebut, ujarnya.
Hal lain yang juga disorotinya adalah menjadikan neraca sumber daya alam sebagai kebutuhan jangka panjang. Ini penting dilakukan agar di masa depan anak cucu kita masih bisa menikmati sumber-sumber daya alam yang dimiliki negeri ini.
Secara hukum, juga harus jelas. Pemeritah harus bisa menegakkan hukum dengan menangkap para pelanggar dan perusak lingkungan. Selain itu, kejahatan yang di hulu, yang berupa korupsi dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang salah, harus diusut juga karena kejahatan ini merupakan yang terburuk di mana kerugian yang diakibatkannya sangat besar, hingga bertriliun-triliun, tandasnya. (m5)
Posted by tjatursaptoedy
Posted by tjatursaptoedy
Posted by tjatursaptoedy