Media Indonesia, 03 Februari 2009
PROSES pergantian jajaran direksi PT Pertamina (persero) yang terkesan menghindari pengawasan masyarakat menimbulkan kecurigaan adanya kepentingan tertentu yang bermain dalam proses ini.
Kesan tertutupnya proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Direktur Utama Pertamina oleh kementerian terkait, dianggap merugikan citra dan upaya Pertamina menjadikan perusahaan minyak dan gas (migas) kelas dunia yang dicintai masyarakat.
Anggota Komisi Vll DPR Alvin Lie dan Tjatur Sapto Edy mengatakan itu kemarin di Jakarta. Mereka mengomentari pelaksanaan fit and proper test calon Direktur Utama Pertamina yang berlangsung Sabtu (31/1) malam di Gedung Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan, Jakarta Selatan.
“Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan proses pergantian direksi ini, apalagi kalau dilakukan secara terbuka,” katanya.
Tapi, dengan tertutupnya proses tersebut, merugikan citra dan upaya Pertamina untuk menjadikannya perusahaan migas kelas dunia yang dicintai masyarakat. “Dengan terbuka justru masyarakat yakin bahwa pergantian ini adalah hal yang alami dan tidak ada kepentingan dari kelompok tertentu di dalamnya. Nantinya, siapa pun yang terpilih akan dicurigai merupakan pilihan dan akan mengusung kepentingan kelompok tertentu. Ini merugikan Pertamina” ungkap Alvin.
Senada dengan Alvin, anggota Komisi VII DPR RI Tjatur Sapto Edy menilai proses uji kepatutan dan kelayakan ini harus terbuka karena Pertamina sebagai perusahaan negara harus bersih dari intervensi kepentingan kelompok tertentu. “Sebagai perusahaan negara, artinya Pertamina juga milik rakyat. Jadi meskipun Menteri BUMN disebut sebagai pemegang saham, sebenarnya di atasnya masih ada rakyat sebagai pemegang saham tertinggi.”
Karena itu, saat ini Pertamina membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kepemimpinan yang kuat sehingga tidak mudah diintervensi dan mempunyai track record yang bersih.
“Pertamina juga butuh sosok yang punya visi pengembangan industri migas masa depan sehingga mampu membawa Pertamina menjadi perusahaan kelas dunia, profesional dan punya keinginan kuat untuk mengembangkan kapasitas hulu migas sehingga bisa memimpin peningkatan produksi dan pengamanan pasokan energi nasional. Dan harus membawa keuntungan untuk masyarakat,” ujar Tjatur kemarin. (JJ/E-1)
Posted by tjatursaptoedy
Posted by tjatursaptoedy
Posted by tjatursaptoedy